Kudeta Mesir, Mahasiswa Desak Pemerintah Aktif Dukung Demokrasi Mesir

JAKARTA (Berita Dewan) Kudeta yang dilakukan militer Mesir terhadap Presiden Mesir Muhammad Mursi menimbulkan berbagai kecaman. Di Indonesia sendiri, banyak yang mengecam aksi kudeta tersebut.

Salah satunya adalah organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Menurut Ketua Umum PP KAMMI, Andriyans, kudeta yang dilakukan oleh militer Mesir terhadap Presiden Mursi menunjukkan bahwa demokrasi di Mesir telah dibunuh oleh militer mereka sendiri.

“Karena itu KAMMI menuntut Pemerintah Indonesia untuk tetap mengakui pemerintahan Mesir yang sah sesuai pemilu demokrasi dan pilihan rakyat, bukan hasil kudeta militer,” katanya.

Menurut dia, Indonesia jelas punya hutang moril terhadap Mesir. Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. “Jadi seharusnya Pemerintah Indonesia aktif menggalang kekuatan internasional untuk menekan militer Mesir agar menjaga gairah demokrasi Mesir dan tidak represif, apapun alasannya,” papar Andriyans.

Selain itu, KAMMI juga meminta agar Pemerintah Indonesia memperhatikan WNI yang saat ini berada di Mesir. “Pemerintah harus memberi jaminan kepada keluarga mereka di tanah air sebagaimana yang telah mereka lakukan di awal-awal revolusi yang lalu,” tandas Andriyans.

PBB Serukan Perlindungan Demonstran

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pada Jumat (5/7) menyeru pasukan keamanan Mesir agar melindungi demonstran dan mencegah bentrokan, setelah perkembangan paling akhir dalam krisis yang merebak di Mesir.

“Sekretaris Jenderal sangat percaya ini adalah persimpangan yang penting buat rakyat Mesir guna bekerjasama untuk merancang kembalinya secara damai ke kekuasaan sipil, ketenangan konstitusional, dan pemerintahan yang demokratis,” kata satu pernyataan yang dikeluarkan di Markas PBB oleh juru bicara Ban.

Para pemimpin politik di Mesir memiliki tanggung jawab untuk memperlihatkan komitmen mereka bagi dialog yang damai dan demokratis, yang melibatkan semua konstituensi di Mesir, kata pernyataan itu –yang juga mendesak rakyat Mesir agar melaksanakan hak mereka untuk berdemonstrasi “secara damai”.

“Cara maju mesti ditentukan oleh rakyat Mesir sendiri, dengan cara yang menghormati keragaman penuh pandangan politik Mesir,” kata Ban, sebagaimana dilaporkan Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu pagi. Sebelumnya beredar laporan sebagian pemrotes telah tewas atau cedera oleh pasukan keamanan, terutama akibat kekerasan seksual.

Sebanyak 12 orang tewas pada Jumat, saat pendukung dan penentang presiden terguling Mesir Mohamed Moursi bentrok di Iskandarya, Kota terbesar kedua di negeri tersebut.

Di dalam pernyataan itu, Ban juga menyampaikan keyakinan bahwa rakyat Mesir akan mampu mengatasi tantangan yang dihadapi negeri mereka saat ini. Ia berjanji akan membina kemitraaan kuat dengan Mesir guna mendukung peralihan damai ke pemerintahan yang representatif dan demokratis.

Angkatan Bersenjata Mesir melengserkan presiden Mohamed Moursi dari jabatannya pada Rabu (3/7), setelah berhari-hari protes terhadap dia akibat “penampilan buruknya” sejak ia terpilih sebagai presiden pada Juni lalu.

Bentrokan meletus pada Jumat antara pendukung dan penentang Moursi di beberapa gubernuran di seluruh negeri itu, termasuk di Ibu Kota Mesir –Kairo, Giza, Isknadariya, Qena, Assiut, Fayoum dan Sinai Utara. (And)